• BAITUL IHSAN

    Baitul Ihsan adalah Lembaga Amil, Zakat, Infaq dan Shadaqah. Sekretariat kami di Kp Sasak Tiga RT 005/006 Desa Tridaya Sakti, Tambun Selatan, Bekasi. Kami hadir didorong oleh kondisi sebagian masyarakat di sekitar kami yang membutuhkan uluran tangan agar bisa merasakan dunia pendidikan. Kami sadar, dunia pendidikan adalah gerbang menuju keberhasilan. Modal utama untuk merubah nasib kaum dhuafa, agar generasi mereka tidak terus-menerus dililit kemiskinan. Karena itulah, anak-anak mereka mesti sekolah lagi. Untuk itulah kami berusaha menjembatani, salah satunya dengan bantuan untuk anak-anak berprestasi dari golongan kaum dhuafa, agar bisa sekolah lagi! Hubungi kami : Ust. Faray Todi, SPd.I : (021)9978744 - 085214166905
  • Desember 2016
    S S R K J S M
    « Feb    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • KLIK TERTINGGI

    • Tak ada
  • TULISAN TERAKHIR BAITUL IHSAN

  • ARSIP BAITUL IHSAN

Sulitnya Akses Siswa Miskin

REPUBLIKA – Rabu, 26 Mei 2010 pukul 10:32:00

Tidak maksimalnya dana pendidikan lantaran kurangnya akuntabilitas pengelolaan biaya, terutama di sekolah. Ade Irawan, dari Divisi Monitoring dan Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW), punya catatan betapa sulitnya anak-anak dari keluarga miskin mendapatkan akses pendidikan yang baik. Tak sebatas biaya, menurut Ade, tetapi mereka pun kerap kali terbentur dalam hambatan administratif.  Sebutlah, misalnya, soal akta kelahiran atau kartu keluarga-hal yang banyak di antara mereka tak memilikinya. “Bahkan, banyak sekolah yang mensyaratkan masuk sekolah dasar (SD) hanya punya ijazah Taman Kanak-Kanak (TK),” tutur Ade dalam seminar “Akuntabilitas Sekolah: Solusi Alternatif untuk Menjamin Akses Siswa Miskin terhadap Pendidikan Dasar Bermutu di Jakarta”, belum lama ini. Sayangnya, menurut pengamatan Ade, semua hambatan itu tidak disingkirkan. Yang terjadi justru pemerintah mencari jalan sendiri dengan membuat sekolah berstandar internasional (SBI) ataupun sekolah percontohan. Dari semua itu, menurut Ade, masalah biaya menjadi hambatan terbesar. Dia menyebut dua faktor yang menyebabkan biaya sekolah menjadi mahal. Pertama, anggaran dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat kecil. “Walau bantuan operasional sekolah (BOS) ditingkatkan, tetap saja alokasinya tidak mencukupi,” tuturnya. Hambatan kedua adalah soal tata kelola yang berkaitan dengan korupsi. Sekolah-yang disebutnya sebagai muara dari anggaran-dalam pengamatan Ade, tata kelolanya sangat buruk. “Mereka selalu beralasan, ini rahasia negara,” ucapnya. Ade mencontohkan soal anggaran pendapatan dan belanja sekolah (APBS). Dia mengaku kerap bertanya ke sekolah soal hal tersebut, tapi umumnya tidak diberi jawaban. Bahkan, menurut dia, guru saja tidak tahu. Problem tata kelola di sekolah, sambung Ade, terjadi karena posisi kepala sekolah sangat dominan. Kepala sekolah yang membuat semua kebijakan, termasuk anggaran.  Di sisi lain, posisi guru dan orang tua lemah sehingga kebijakan penganggaran sekolah dibuat sepihak. “Intinya, kebijakan anggaran di sekolah tertutup. Begitu juga ketika kami datang ke Diknas, mereka tertutup,” katanya. Menurut Ade, soal akuntabilitas bukan kepada guru dan siswa saja, tetapi juga kepada kepala dinas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: