• BAITUL IHSAN

    Baitul Ihsan adalah Lembaga Amil, Zakat, Infaq dan Shadaqah. Sekretariat kami di Kp Sasak Tiga RT 005/006 Desa Tridaya Sakti, Tambun Selatan, Bekasi. Kami hadir didorong oleh kondisi sebagian masyarakat di sekitar kami yang membutuhkan uluran tangan agar bisa merasakan dunia pendidikan. Kami sadar, dunia pendidikan adalah gerbang menuju keberhasilan. Modal utama untuk merubah nasib kaum dhuafa, agar generasi mereka tidak terus-menerus dililit kemiskinan. Karena itulah, anak-anak mereka mesti sekolah lagi. Untuk itulah kami berusaha menjembatani, salah satunya dengan bantuan untuk anak-anak berprestasi dari golongan kaum dhuafa, agar bisa sekolah lagi! Hubungi kami : Ust. Faray Todi, SPd.I : (021)9978744 - 085214166905
  • Desember 2016
    S S R K J S M
    « Feb    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • KLIK TERTINGGI

    • Tak ada
  • TULISAN TERAKHIR BAITUL IHSAN

  • ARSIP BAITUL IHSAN

SELAMAT JALAN USTADZ….

Kami yakin bahwa malam ini bukanlah malam terakhir kami bertemu Ustad Faray Todi, yang akrab kami pangil Abi Todi. Keberangkatan beliau bersama keluarga besok pagi ke Bangka Belitung untuk memenuhi panggilan negeri ini – mengajar di sebuah Madrasah Tsanawiyah Negeri di sana. Sebuah sekolah agama yang berjarak 80 km dari ibukota kabupaten. Cukup berat kelihatannya perpisahan ini, tapi kami yakin, Allah SWT akan tetap mengikatkan hati kami. Visi kami masih sama….

Baitul Ihsan harus tetap berjalan. Program Prestatif Dhuafa yang telah kami bangun hampir setahun ini tidak boleh berhenti. Anak-anak kampung di sekitar kami harus tetap sekolah. Kami yakin, mereka masih bisa terus sekolah! Air mata ini serasa menetes tiada henti andai semua harus berakhir. Tapi kami tidak boleh menangis dan berhenti. Apa jadinya anak-anak itu nanti kalau kami berhenti…

Abi Todi telah meyakinkan kami, bahwa tanpa beliau, Baitul Ihsan akan tumbuh semakin besar. Cita-cita mewujudkan sekolah gratis-pun bukan impian. Semoga……

Penyampaian Bantuan Biaya dan Sarana Sekolah

Penyaluran Dana Program Prestatif Dhuafa

Syukur alhamdulillah, sampai dengan hari ini (7 Juli 2010) telah terkumpul dana dari para donatur sekalian, sebesar Rp 14.600.000,-. Alhamdulillah telah disalurkan melalui Baitul Ihsan kepada para siswa berprestasi dari golongan dhuafa di sekitar Kampung Sasak Tambun Selatan Msudah-mudahan bermanfaat dan mencapai sasaran agar mereka bisa sekolah lagi, menggapai angan mereka. . Insyaallah akan segera kami laporkan perincian serta perkembangan para penerima bantuan tersebut. Jazakallah khairan katsira…. Mudah-mudahan amal kebaikan bapak/ibu sekalian menjadi amal kebaikan yang disempurnakan Allah Swt,  serta mudahmudahan menjadi amal ibadah dan mendapat pahala yng besar dari Allah SWT..Amin yaa rabb

Sekolah Mahal, Tanya Kenapa?

Sistem pendidikan kita sedang menghadapi krisis solidaritas, jauh dari reksa demokratis, dan abai terhadap keadilan sosial. Meski kita telah memasuki millenium ketiga, cara kita menanggapi tiga serangan ini tak beranjak jauh dari warisan semangat baru zaman Adam Smith pada tahun 1850-an. Semangat itu adalah, “Mengeruk kekayaan, melupakan semuanya, kecuali diri sendiri!”Biaya sekolah memang mahal. Tidak ada satu individu yang dari dirinya sendiri mampu membiayai kebutuhan pendidikan. Karena itu harus ada manajemen publik dari negara. Sebab negaralah yang dapat menjamin bahwa setiap warga negara memperoleh pendidikan yang layak. Negaralah yang semestinya berada di garda depan menyelamatkan pendidikan anak-anak orang miskin. Tanpa bantuan negara, orang miskin tak akan dapat mengenyam pendidikan.

Namun, ketika negara sudah dibelenggu oleh empasan gelombang modal, sistem pendidikan pun bisa ditelikung dan diikat oleh lembaga privat. Serangan ini pada gilirannya semakin mereproduksi kemiskinan, melestarikan ketimpangan, mematikan demokrasi dan menghancurkan solidaritas di antara rakyat negeri!

Mengapa sekolah mahal bisa dilacak dari relasi kekuasaan antar-instansi ini, yaitu antara lembaga publik negara dan lembaga privat swasta. Ketimpangan corak relasional di antara dua kubu ini melahirkan kultur pendidikan yang abai pada rakyat miskin, menggerogoti demokrasi, dan melukai keadilan.

Sekolah kita mahal, pertama, karena dampak langsung kebijakan lembaga pendidikan di tingkat sekolah. Ketika negara abai terhadap peran serta masyarakat dalam pendidikan, pola pikir Darwinian menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Sebab tanpa biaya, tidak akan ada pendidikan. Karena itu, membebankan biaya pada masyarakat dengan berbagai macam iuran merupakan satu-satunya cara bertahan hidup lembaga pendidikan swasta. Ketika lembaga pendidikan negeri yang dikelola oleh negara berlaku sama, semakin sempurnalah penderitaan rakyat negeri. Sekolah menjadi mimpi tak terbeli!

Kedua, kebijakan di tingkat sekolah yang membebankan biaya pendidikan pada masyarakat terjadi karena kebijakan pemerintah yang emoh rakyat. Ketika pemerintah lebih suka memuja berhala baru ala Adam Smith yang “gemar mengeruk kekayaan, melupakan semua, kecuali dirinya sendiri, ” setiap kewenangan yang semestinya menjadi sarana pelayanan berubah menjadi ladang penjarahan kekayaan. Pejabat pemerintah dan swasta (kalau ada kesempatan!) akan berusaha mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari proyek anggaran pendidikan.

Ketiga, mental malingisme pejabat negara, juga swasta, semakin menggila terutama karena tuntutan persaingan di pasar global. Indikasi Noam Chomsky tentang keterlibatan perusahaan besar Lehman Brothers dalam menguasai sistem pendidikan rupanya juga telah menyergap kultur pendidikan kita. “Jika kita dapat memprivatisasi sistem pendidikan, kita akan menggunungkan uang.” Itulah isi pesan dalam brosur mereka.

Banyak perusahaan berusaha memprivatisasi lembaga pendidikan, kalau bisa membeli sistem pendidikan. Caranya adalah dengan memanfaatkan kelemahan moral para pejabat negara. Bagaimana? Dengan membuatnya tidak bekerja! Karena itu, cara paling gampang untuk memprivatisasi lembaga pendidikan adalah dengan membuat para pejabat negara membiarkan lembaga pendidikan mati tanpa subsidi, mengurangi anggaran penelitian, memandulkan persaingan, dan lain-lain. Singkatnya, agar dapat dijual, lembaga pendidikan negeri harus dibuat tidak berdaya. Kalau sudah tidak berdaya, mereka akan siap dijual. Inilah yang terjadi dalam lembaga pendidikan tinggi kita yang telah mengalami privatisasi.

Pendidikan merupakan conditio sine qua non bagi sebuah masyarakat yang solid, demokratis, dan menghormati keadilan. Karena kepentingan strategisnya ini, mengelola pendidikan dengan manajemen bisnis bisa membuat lembaga pendidikan menjadi sapi perah yang menggunungkan keuntungan. Karena itu, sistem pendidikan akan senantiasa menjadi rebutan pasar. Jika pasar melalui jaring-jaring privatnya menguasai sistem pendidikan, mereka dapat merogoh kocek orangtua melalui berbagai macam pungutan, seperti, uang gedung, iuran, pembelian formulir, seragam, buku, jasa lembaga bimbingan belajar, dan lain-lain.

Negara sebenarnya bisa berperan efektif mengurangi mahalnya biaya pendidikan jika kebijakan politik pendidikan yang berlaku memiliki semangat melindungi rakyat miskin yang sekarat di jalanan tanpa pendidikan. Jika semangat “mengeruk kekayaan, melupakan semuanya, kecuali diri sendiri” masih ada seperti sekarang, sulit bagi kita menyaksikan rakyat miskin keluar dari kebodohan dan keterpurukan. Maka yang kita tuai adalah krisis solidaritas, mandeknya demokrasi, dan terpuruknya keadilan sosial.

Doni Koesoema, A
* Mahasiswa jurusan Pedagogi Sekolah dan Pengembangan Profesional pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Kepausan Salesian, Roma

[Kolom, Gatra Nomor 23 Beredar Kamis, 19 April 2007]

PENDIDIKAN MENURUT ISLAM

(SUMBER : WIKIPEDIA)

Pendidikan menurut Islam mempunyai kedudukan yang tinggi. Ini dibuktikan dengan wahyu pertama yang disampaikan kepada Nabi Muhammad s.a.q. yang menyuruh bagainda membaca dalam keadaan beliau yang ummi [1]. Di samping itu, wahyu ini juga mengandungi suruhan belajar mengenali Allah s.w.t., memahami fenomena alam serta mengenali diri yang merangkumi prinsip-prinsip aqidah, ilmu dan amal. Ketiga-tiga prinsip ini merupakan teras kepada falsafah pendidikan Islam [2].

Definisi pendidikan juga kerapkali menampakkan perbezaan dalam penekanan dan konsepnya di kalangan sarjana Barat. Ahli falsafah Amerika, John Dewey menyatakan bahawa pendidikan adalah “The process of forming fundamental dispositions, intellectual and emotional forwards nature and fellow men.” [3]

Prof. H. Hone pula berpendapat: “Education is the eternal process of superior adjustment of the physically developed, free conscious, human beings to God as manifested in the intellectual, emotional and relational environment of men.” [4]

Ahli falsafah Yunani yang terkenal, Plato mengatakan pendidikan bererti memberi keindahan dan kesempurnaan yang mungkin diberikan kepada jasmani dan rohani [5]

Dilihat dari takrif yang diberikan Srajana Barat, difahamkan bahawa pendidikan itu hanya sebagai proses melatih akal, jasmanu dan moral supaya dibentuk menjadi manusia dan warganegara yang baik. Manakala menurut perspektif Islam, pendidikan mempunyai pengertian dan konsept yang lebih luar atau syumul.

Prof. Hassan Langgulung (1987) menegaskan pendidikan sebagai merubah dan memindahkan nilai-nilai kebudayaan kepada setiap individu masyarakat melalui pelbagai proses. Proses pemindahan tersebut ialah pengajaran, latihan dan indoktrinasi. Pemindahan nilai-nilai melalui pengajaran ialah memindahkan pengetahuan dari individu kepada individu yang lain; dan latihan ialah membiasakan diri melakukan sesuatu bagi memperoleh kemahiran, sementara indoktrinasi pula menjadikan seseorang dapat meniru apa yang dilakukan oleh orang lain. Ketiga-tiga proses ini berjalan serentak dalam masyarakat primitif dan moden.

Dr. Yusuf al-Qardawi (1980) pula mendefinisikan pendidikan sebagai pendidikan bagi keseluruhan hidup termasuklah akal, hati dan rohani, jasmani, akhlak, dan tingkahlaku. Ia bertujuan untuk menyediakan manusia bagi menghadapi masyarakat yang sering menghadapi kebaikan dan kejahatan, kemanisan dan kepahitan.

Kesimpulannya, pendidikan menurut Islam ialah satu proses berterusan untuk merubah, melatih, dan mendidik akal, jasmani, dan rohani manusia dengan berasaskan nilai-nilai Islam yang bersumberkan wahyu bagi melahirkan insan yang bertaqwa dan mengabadikan diri kepada Allah s.w.t. untuk mendapatkan kejayaan di dunia dan akhirat.

“KAMI INGIN TETAP SEKOLAH” : Merentas Asa Kaum Dhu’afa

Telah menjadi perbincangan masyarakat luas, bahwa biaya pendidikan telah menjadi sedemikian mahal. Satu ironi nyata yang terjadi di sekeliling kita. Data Kompas.com berdasar survey di beberapa kota menyebutkan bahwa biaya masuk perguruan tinggi negeri bisa mencapai angka di atas Rp 100 juta, sementara setiap semester dapat mencapai Rp 70 juta untuk fakultas tertentu. Sementara Antara News menyebutkan uang pangkal masuk kuliah negeri telah mencapai minimal Rp 25 juta untuk fakultas-fakultas eksakta, bahkan lebih untuk fakultas favorit tertentu. Akibatnya, banyak siswa berprestasi yang mengundurkan diri karena para orangtua tidak mampu menanggung biaya pendidikan tersebut.

Alhasil, pendidikan berkualitas hanya bisa dinikmati oleh kelompok masyarakat dengan pendapatan menengah ke atas. Mereka dengan pendapatan menengah ke bawah akan putus sekolah di tingkat SD, SMP, atau paling tinggi SMU. Kondisi yang sangat memprihatinkan, anak-anak yang berasal dari keluarga tak mampu secara ekonomi justru yang paling banyak dirugikan karena mahalnya biaya pendidikan. Mereka terpaksa masuk sekolah yang minim fasilitas dan bermutu rendah. Dampaknya, hasil studi mereka pun tak bisa optimal. Padahal sekolah dapat menjadi pintu perbaikan kompetensi masyarakat agar mereka mampu memperbaiki taraf hidupnya.

Akar masalahnya adalah semakin berkurangnya peran pemerintah dan lingkaran setan kemiskinan yang sulit dientaskan. Tidak terjangkaunya biaya pendidikan akan menyebabkan banyaknya generasi umat yang gagal mengembangkan potensi dirinya sehingga mereka tetap dalam kondisi miskin dan bodoh.
Dalam Islam, tujuan pendidikan adalah untuk membentuk kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah).

Generasi muda dididik agar membekali dirinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan. Pendidikan dalam Islam merupakan kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi sebagaimana kebutuhan makan, minum, pakaian, rumah, kesehatan, dan sebagainya. Program wajib belajar berlaku atas seluruh rakyat pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Namun konsep pendidikan murah sulit diwujudkan. Konsep pendidikan murah sebenarnya telah diterapkan oleh Khilafah Islam selama kurang lebih 1400 tahun, yaitu sejak Daulah didirikan di Madinah oleh Rasulullah SAW hingga Khilafah Ustmaniyah di Turki diruntuhkan oleh imperialis kafir pada tahun 1924 M. Selama kurun itu pendidikan Islam telah mampu mencetak SDM unggul yang bertaraf internasional dalam berbagai bidang. Di antaranya adalah Imam Malik bin Anas (w. 798), Imam Syafii (w. 820), Imam Ahmad bin Hanbal (w. 855), dan Imam Bukhari (w. 870) sebagai ahli al-Quran, hadis, fikih, dan sejarah; Jabir bin Hayyan (w. 721) sebagai ahli kimia termasyhur; al-Khawarizmi (w. 780) sebagai ahli matematika dan astronomi; al-Battani (w. 858) sebagai ahli astronomi dan matematika; ar-Razi (w. 884) sebagai pakar kedokteran, ophtalmologi, dan kimia; Tsabit bin Qurrah (w. 908) sebagai ahli kedokteran dan teknik; Ibnu al-Bairar (al-Nabati) sebagai ahli pertanian khususnya botani, dan masih banyak lagi.

Bertolak belakang dengan itu semua, kini pendidikan telah menjadi barang mahal. Masyarakat dijerat kemiskinan yang semakin akut. Jumlah kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 saja mencapai 32,53 juta atau 14,15 persen [www.bps.go.id]. Kemiskinan tidak hanya terjadi di desa atau luar jawa, tapi juga di ibukota dan sekitarnya (JABODETABEK). Kemiskinan tidak memungkinkan mereka kaum papa bisa belajar sama seperti yang dirasakan kaum berada, karena si miskin hanya bisa bermimpi dan berandai-andai untuk menikmati pendidikan dan menjadi orang pintar.

Disinilah kepedulian kita diuji. Solidaritas berbagi kepada sesama, terutama terhadap kaum dhu’afa sangat begitu membutuhkan uluran tangan. Bukankah salah satu sifat kaum muttaqin (orang-orang yang bertaqwa adalah) mau menyisihkan sebagian rizqi yang mereka terima untuk diinfakkan di jalan Allah? Sebagaimana firman Alloh SWt dalam Q.S : Al Baqarah/ 2 : 1-3 :
ملا

2.1. Alif laam miin.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

2.2. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

2.3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkansebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Insya Allah, bershadaqah akan menjadikan diri kita bersih dari sifat kikir dan bakhil. Kehidupan akan tenang karena jiwa penerima bersih dari sifat hasad (iri), saling memahami dan saling bekerjasama.

Betapa indahnya ketika kita dapat menyaksikan para kaum dhuafa dapat merasakan indahnya dunia pendidikan, yang akan mengangkat harkat martabat mereka dalam kehidupan ini.

Karena itulah, kami menghadirkan Program Beasiswa Prestatif Dhuafa, agar kaum dhuafa, dapat terangkat harkat dan martabatnya melalui pendidikan. Mereka akan semakin terpinggirkan jika tidak mampu membayar biaya sekolah. Kemiskinan akan menjadi lingkaran setan kehidupan anak cucu mereka. Marilah kita bersama bergandengan tangan, mengulurkan tangan untuk mereka. Semoga Allah Swt membersihkan dan mensucikan jiwa kita serta memberi pertolongan kepada kita sekalian, karena telah peduli untuk menafkahkan sebagian rizqi kita di jalanNya. Amin.

PROGRAM BEASISWA PRESTATIF DHUA’FA :
UPAYA MERENTAS ASA KAUM DHUAFA UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN

Dengan jarak radius + 25 km kearah timur ibukota, wilayah Tambun Selatan tidaklah jauh dari ibukota. Satu sentra perkembangan yang dikatagorikan sebagai daerah paling padat di Kabupaten Bekasi. Data terakhir pada bulan April 2010 Tambun Selatan dihuni sekitar 353.805 jiwa dari sembilan desa dan satu kelurahan. Di sekitar wilayah kecamatan Tambun Selatan, masih ada beberapa kecamatan dengan kondisi serupa, antara lain Cibitung, Tambun Utara, Sukatani, dan sekitarnya. Dibalik deru perkembangan industrialisasi, menjamurnya pemukiman kelas menengah ke bawah, menjamurnya kontrakan-kontrakan kaum buruh pabrik, ternyata persoalan kemiskinan tetap melekat, 8.330 keluarga terpinggirkannya dengan predikat kaum duafa, berada di bawah garis kemiskinan dengan mata pencaharian dan penghasilan yang tak pasti.

Salah satu media online di Bekasi menyebutkan masyarakat miskin di Kabupaten Bekasi jumlahnya tercatat 111.527 keluarga atau 500.000 jiwa lebih. Jumlah keluarga miskin di Kecamatan Babelan sejumlah 11.491 keluarga, di Kecamatan Pebayuran 9.320 keluarga, di Kecamatan Tambun Selatan 8.330 keluarga, di Kecamatan Tambun Utara 6.662 keluarga, di Kecamatan Kedungwaringin 6.638.
Menurut data statistik hampir separuh penduduk di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, hidup miskin. Jumlahnya mencapai 47,5 persen atau 1,03 juta dari keseluruhan penduduk 2,2 juta jiwa. Tingginya angka kemiskinan itu dipicu masalah ketimpangan ekonomi. Parameter warga hidup miskin yang dimaksud adalah kemampuan memenuhi kebutuhan sandang, papan, dan pangan. Penghasilan rata-rata di bawah Rp 200 ribu per bulan, rumah tidak layak huni, dan pakaian ala kadarnya. (disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Drs. H. Dadang Mulyadi MM mewakili Bupati Bekasi dalam pembukaan Work Shop penanggulangan kemiskinan pada Senin 26 April 2010 di Hotel Randoe Cikarang Selatan)

Data ini menjadi sebuah potret permasalahan kemiskinan yang sedemikian kompleks, dan seharusnya menjadi keprihatinan kita semua, Sebagai umat Islam, kepedulian terhadap masalah kemiskinan ini semata-mata karena dorongan kepedulian kita, dorongan pengakuan hati, bahwa semua harta benda yang kita miliki adalah amanah dari-Nya, yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan pendistribusiannya.

Pendidikan dan kemiskinan di negara berkembang hampir serupa permasalahannya. Umumnya menghadapi dilema; apakah pertumbuhan ekonomi yang lebih dahulu dipacu ataukah pendidikan yang lebih baik. Persoalan ini sukar dijawab, sehingga ia lebih merupakan sebuah lingkaran setan (vicious circle). Keterkaitan kemiskinan dengan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia.

Tingginya angka putus sekolah di masyarakat miskin pada saat mereka melanjutkan pendidikan dari SD ke SMP serta kurangnya akses masyarakat miskin untuk melanjutkan dari SMP ataupun SMK, baik bersifat fisik maupun finansial. Akses finansial terbatas akibat tingginya biaya menciptakan halangan bagi pendidikan masyarakat miskin pada tingkat pendidikan menengah pertama. Sekitar 89 persen anak dari keluarga miskin menyelesaikan sekolah dasar, tetapi hanya 55 persen yang menyelesaikan sekolah menengah pertama. Investasi di bidang pendidikan harus dilakukan dengan fokus pada perbaikan akses dan keterjangkauan sekolah menengah serta pelatihan ketrampilan bagi masyarakat miskin, sambil terus meningkatkan mutu dan efisiensi sekolah dasar.

Di tengah-tengah mata rantai dampak permasalahan kemiskinan tersebut, maka kami membentuk sebuah Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Baitul Ihsan, dengan salah satu konsentrasinya yaitu : memberikan bantuan beasiswa kepada para pelajar berprestasi dari golongan kaum dhu’afa.

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ {34} يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَـذَا مَا كَنَزْتُمْ لأَنفُسِكُمْ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُون{35}
*”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung mereka(lalu dikatakan) kepada mereka:”Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri,maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan”. * At Taubah 34-35

KOMITMEN DAN SASARAN KAMI
BAITUL IHSAN adalah Lembaga Amil, Zakat, Infaq dan Shodaqah yang terbentuk secara spontan. Mayoritas para pengurus adalah para pendidik yang memiliki satu visi dan komitmen yang kuat untuk mengajak kaum muslimin sekalian, bergerak bersama-sama, memberikan bantuan kaum dhu’afa yang memerlukan, dan selama ini belum tersentuh oleh Lembaga Amil Zakat yang lain.

Sasaran program ini adalah memberikan beasiswa kepada pelajar yang berprestasi dari kalangan kaum dhu’afa agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hanya kepada Alloh SWT kita memohon pertolongan agar dijadikan hamba-hambanya yang pandai bersyukur.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرُُ عَظِيمُُ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. [Al Anfal:28].

Akhir kata, kami BAITUL IHSAN mengucapkan beribu terimakasih, uluran tangan Saudara sekalian sangat kami harapkan. Jazakumullah Khairan Katsira.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!